Kita semua pernah berbuat kesalahan bukan? baik kesalahan dosa maupun keburukan lainnya. Akupun begitu kawan. Hari-hariku tak pernah berlalu tanpa dosa. Berpindah dari kelalaian menuju kelalaian yang lain, dari satu dosa ke dosa yang lain. Duniaku berputar di sana saja, pagi, siang, dan malam.

Sedangkan, usiaku semakin bertambah. Walau masih di usia 20-an, ternyata kemampuan menghafalku kian melemah. Apa kabar hafalan Alquranku? Apa kabar hafalan hadisku? Seolah aku tak peduli lagi.

Aku telah mencoba berubah kawan, aku sudah berusaha hijrah. Tapi itu hanya omong kosong, hanya bertahan sesaat. Berkali-kali bangkit dan terjatuh lagi, berjuang, dan kemudian terperosok lagi. Aku berpikir apakah karena hatiku yang sudah menghitam legam sehingga susah sekali bagiku untuk berubah?

Aku melihat teman-temanku yang lain dengan kesuksesan mereka. Pencapaian hidup dan betapa produktifnya mereka dalam kebaikan. Sedangkan aku? Hanya produktif dalam kemaksiatan, iya, hanya bisa menambah dosa saja dengan bertambahnya umur. Aku terkadang malu. Berapa kali aku selalu mencari pembenaran. Ah, mereka kan memang basicnya bagus, privilege nya mendukung, punya banyak potensi dari kecil, dan sebagainya. Dan lagi-lagi aku terjebak lagi di sini. Mengulang ritme yang sama. Tak mau mencoba berubah.

Sampai kapan aku begini? Aku telah mencapai titik bosan. Di mana ketenangan dalam hatiku sudah tak bersisa, kekhusyukan dalam shalatku sudah sirna, kebahagiaan dalam berbuat kebaikan sudah tak kurasakan. Apakah aku akan selamanya begini?

Kini aku melihat bumi telah banyak berubah. Seolah ia berkata, "Aku telah diperintah Tuhanku untuk memperingatkan manusia dengan berbagai bencana, tapi mereka tetap tak mau berubah." Iya, kamu lihat sendiri bukan kawan? Banyak bencana di tahun ini. Pandemi covid-19, banjir, gempa bumi, pesawat jatuh, dan lainnya. Setiap hari ada saja bencana yang terjadi di berbagai belahan bumi. Bukankah ini sebuah peringatan? Kemudian aku melihat ada postingan yang mencantumkan ayat berikut :

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Surah Ar-Rum: ayat 41)[1]

Mungkin inilah cara Allah menegur kita kawan. Kita telah diberi kenikmatan oleh Allah, dan kemudian kita melalaikan-Nya. Pantaskah seperti itu?

Saat aku berpikir untuk malu karena berkali-kali untuk kembali dan hijrah kepada-Nya, aku menemukan hadis bahwa Rasulullah bersabda :

"Seorang hamba mengerjakan dosa kemudian  berkata, ‘Ya Allâh, ampunilah aku.’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku mengerjakan dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hambaku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya, berbuatlah sesuka engkau, Aku telah mengampunimu.’” (HR. al-Bukhâri (no. 7507) dan Muslim (no. 2758))[2]

Dan juga bahwa beliau juga bersabda :

"Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat." (HR. Ibnu Majah No. 4241)[3]

Dari situ aku menyadari bahwa rahmat Allah sungguh amat luas. Selama kita sebagai hamba mau bertaubat, Allah pasti akan mengampuni. Mulai sekarang, aku mulai memaksakan diriku untuk melakukan kebaikan. Dan memaksakan diri untuk meninggalkan kemaksiatan. Tak lupa juga berdo'a kepada Allah agar selalu memudahkanku, dan meneguhkan hatiku. Yah, walaupun belum terlalu produktif dalam kebaikan, setidaknya sudah tidak terlalu produktif dalam keburukan.

Allah berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Surah Ar-Ra'd: ayat 11).[4]

Yuk, sama-sama berusaha untuk berubah. Berubah menjadi versi diri kita yang lebih baik. Bukan untuk siapa-siapa. Melainkan untuk kita sendiri, karena Allah Ta'ala.

 

"Jangan pernah lelah untuk berusaha berubah menjadi lebih baik."





[1] https://tafsirweb.com/7405-quran-surat-ar-rum-ayat-41.html

[2] https://almanhaj.or.id/12438-keluasan-ampunan-allah-subhanahu-wa-taala-yang-maha-luas-2.html

[3] https://www.carihadis.com/Bulughul_Maram/1506

[4] https://tafsirweb.com/3971-quran-surat-ar-rad-ayat-11.html